h1

Segara

23 Februari 2014

Aku masih ingat air mata yang ku jatuhkan di Segara Anak dulu
Disaat ku rasa diri ini hanya deru di matamu
Mengapa padang bulan tak mampu mengusir kabut
Dan senyumpun tak mampu terhias lagi
Menatapmu hanya emosi yang segera terluap ke segara

Marahpun ku tak kuasa, kasihku
Memang tanya lebih sesak daripada kudaki barisan bukit senja itu
Menghitung langkah sama dengan tercecarnya pertanyaan di dadaku
Pertanyaan yang akan kubawa jawabannya darimu

Maka segara meredam muntahan magma di kaldera
Memberi damai hanya menatap langit di barisan gunung

Air mata masih jatuh di Segara Anakan
Tak terbendung dan terus mengalir menuju Tuhanku
Kabut di kejauhan terimbas kiranya di mata

Hancurkan kecamuk ini pelan-pelan, sayangku
Seperti luruhnya bebatuan magma yang menjadi pasir
Dan walau diammu adalah pemakluman bagiku
Cintaku tetap mengalir jauh tak berujung
Aliran sulfur, bercampur batu, bertemu pasir,
mengawini air, sebagian menguap ke angkasa,
lalu berebut tuk turun lagi

Maka kembali ku rebahkan badan di tepian segara
Biarlah dingin, biarlah kalut
Karena ingin ku bekukan semua waktuku
Dan tetap mencintaimu

Segara Anakan
Isya, 20 April 2013

h1

Yang Maha Penghibur

4 Januari 2014

Banyak cara yang dilakukan orang untuk menghadiahi diri sendiri, tidak terkecuali saya. Tahun ini, 2014, genap duapuluh lima tahun Tuhan yang kuasa mengkaruniai nikmat umur, keceriaan, dan cinta. Secuil mimpi yang pernah menyinggahi alam rasa saya, itu pula yang coba saya wujudkan di tahun ini. Mimpi kecil saja, yaitu membebaskan jiwa mengarungi bumi timur Indonesia.

Jadi rencananya pertengahan tahun ini saya ingin memperjalankan diri, juga hati, menuju Pulau Komodo di timur sana. Bertepatan dengan ulang tahun ke duapuluh lima (moga Allah memperkenankan) perjalanan itu akan dimulai. Semoga dihari itu rencana lain paripurna, tesis saya selesai dan punya sedikit rizki sebagai modal perjalanan.

Telah terkenang lama, keinginan melakukan perjalanan tanpa dibatasi waktu dan pekerjaan. Saya ingin lepas, selepas-lepasnya, menyusuri jalan dengan kaki saya sendiri dan menyaksikan kehidupan dari dekat. Saya tidak tahu, mungkin saja akan menetap beberapa waktu di lokasi tertentu, atau hanya singgah untuk melepas lelah. Akan lebih menyenangkan jika saya bisa melakukan sesuatu disitu, entah mengunjungi kerabat atau berbagi ilmu kepada masyarakat lokal. Membayangkannya saja saya sudah sangat bersemangat ūüôā

Saya akan memulai perjalanan ini dari Mataram, kota sejuk di tengah Pulau Lombok yang amat memukau. Lombok, yang dalam bahasa sasak bermakna “lurus”, akan menjadi titik awal perjalanan hati saya. Tampaknya mengunjungi beberapa kerabat dan berkonsultasi mengenai perjalanan akan tepat dilakukan di kota ini. Sebelum akhirnya saya akan melanjutkan langkah menuju Labuhan Kayangan.

Labuhan Kayangan akan menjadi titik tolak menyeberangi dunia baru. Melintasi Selat Alas yang terkenal dengan arusnya nan deras. Tujuan saya adalah Poto Tano di tanah Sumbawa. Moga Sumbawa cukup ramah, memperjalankan saya menyusuri Teluk Saleh, Dompu, hingga ke Bima.

Terekam sudah kemegahan Tambora yang memacu detak jantung, menggunungkan syukur kepada Allah yang telah menguatkan kelemahan-kelemahan saya. Moga nanti banyak sahabat yang bisa saya temui, dan moga banyak juga yang bisa saya beri kepada mereka.

Bima yang elok, mungkin saya akan menetap cukup lama disini. Menikmati eksotisnya ranggas ilalang dan derap pacuan kuda. Dan jika tidak ada halangan, setiap 17 Agustus akan diadakan lomba pacuan kuda di Bima. Dirgahayu Indonesia moga bisa saya cecap dari sini.

Puas di Bima, perjalanan akan berlanjut menuju tujuan akhir, Komodo. Menyeberang melalui Sape, tanah Komodo akan sangat tak terkata sebagai penyempurna hadiah ini. Berkah Tuhan, cinta Tuhan, pelukan Tuhan, mungkin saya akan menangis di tanah ini ūüôā

Demikianlah, rencana saya untuk berwisata bersama Tuhan tahun ini. Memperjalankan diri, membaca pertanda, berbagi, dan menguatkan langkah kaki. Tuhan maha baik, Ia tak akan biarkan hambanya sendiri. Perkenankanku, yang maha penghibur¬† ūüôā

h1

Sejenak Lupa

23 Juli 2013

Tiba saatnya lelah ini menumpuk. Menggunung di sekujur sukma dan tak sanggup berkata. Bukan tak mau, hanya berusaha meredam argumen agar ianya tak percuma.

Tiba saatnya merekonstruksi khazanah berpikir kebanyakan manusia. Saat upaya mencari rahmat Nya ditertawakan sebelah mata. Rizki melimpah nan halal tak cukup jadi ukuran. Bukan hal yang mengangkat martabat, katanya. Ehm, padahal, siapa pula yang persoalkan martabat.

Menjaga kesucian niat sungguhlah perihal rumit. Perlu diwaspadai samaran-samaran riya’ yang luar biasa, halus mengintai celah turut bercengkrama. Di antara keikhlasan, juga menyusup nafsu berlakon harga diri yang diam-diam melucuti. Melemahkan, memfatamorganakan semua perjuangan.

Maka saat lelah itu menyerang, carilah teman tempat dirimu bercerita. Tuhan tak biarkanmu sendirian. Bersama teman, setidaknya kau dapatkan sejenak lupa ūüôā

h1

Terima Kasih

7 Februari 2013

Dunia, aku capek! Iyaaah…..

dan di saat lelah yang berlipat itulah, perlahan kita urai dalam senyap. satu. satu. dan senyum pelepasan yang begitu ikhlas, cukup sudah..

memacu, lelah, istirahat, memacu, lelah, tersenyum. memacu lagi..

dan di dalam itulah, nafas terhela

“fa-biayyi alaa’i rabbi kuma tukadzdzi ban”

h1

Sebuah Cerpen

4 Februari 2013

Perempuan (oleh Taufik Saptoto Rohadi)

Di mana lagi aku temui perempuan semacammu?  Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar  kepadaku.

Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu?  Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.

Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu?  Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali  menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.

Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari  perempuan seinspiratif dirimu?  Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram  yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal  penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa.

Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu?    Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran  ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari.  Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe,  cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan  menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling  indah sepanjang pernikahan kita.    Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan  tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.

Kita bahagia. Sangat bahagia?..    Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku  dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang  tingkah anak-anak tetangga? Kala itu kita begitu menginginkan  hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak  bertahun-tahun sebelumnya.  Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?

Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti¬† digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan¬† kata-kata sebisaku, ‚Äútidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak¬† apa-apa.‚Ä̬†¬†¬† Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa¬† isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan¬† kepadamu, ‚ÄúTidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih¬† muda.‚ÄĚ Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu,¬† lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau¬† selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk¬† perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya¬† di depan rumah kita yang sepetak. ‚ÄúYang dalam, Kang. Biar nggak¬† digali anjing.‚ÄĚ

Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu?¬†¬†¬† Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di¬† tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. ‚ÄúKang,¬† Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.‚ÄĚ Cincin yang mana lagi? Engkau¬† sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku¬† membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas¬† pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk¬† makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar¬† rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing.¬† Terutama ? untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi¬† monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang,¬† dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu,¬† tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang¬† membawa uang.¬†¬†¬† Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan¬† lain seperti dirinya?

Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta  macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan  penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua  yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke  lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.

Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak  mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu  seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah  kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat  prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi  celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.

Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia.¬† Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna,¬† kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku?¬† Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah¬† kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk¬† perjuanganmu melahirkan anak kita?¬†¬†¬† ‚ÄúKang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa.¬† Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.‚Ä̬† Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas.¬† Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen.¬† Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses¬† menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak¬† boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin¬† tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.

Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku¬† terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu.¬†¬†¬† Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul¬† teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya¬† meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. ‚ÄúTerus kamu¬† kenapa masih di sini? Pulang saja,‚ÄĚ kata atasanku ketika itu. Engkau¬† tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu¬† mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya ‚Äútentara¬† kecil‚ÄĚ kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan¬† meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi,¬† tidak. Atasanku bilang, tidak. ‚ÄúPulang saja,‚ÄĚ katanya. Baru¬† kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu.¬† Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu.¬† Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.

Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit¬† dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas,¬† semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga¬† aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik¬† ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika¬† engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat.¬† ‚ÄúIstri saya akan melahirkan,‚ÄĚ kataku yakin.

Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan¬† aku menolak untuk meninggalkanmu. ‚ÄúDulu ada suami yang ngotot¬† menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,‚Ä̬† kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti¬† laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang¬† persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu.¬† Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku.¬†¬†¬† Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung¬† selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap¬† seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu¬† mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan¬† sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan,¬† sementara ‚Äútentara kecil‚ÄĚ kita tak pula mau beranjak.¬†¬†¬† ‚ÄúBanyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan.¬† Tapi anak ini kakinya melintang,‚ÄĚ kata dokter. Aku berusaha tenang.¬† Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi¬† wajah berpeluhmu,Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera¬† terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi.¬† Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika¬† kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu.

Aku akan¬† mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena¬† ingin membuatku bahagia.¬†¬†¬† ‚ÄúSudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,‚ÄĚ bisikmu persis di¬† telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini¬† urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati,¬† rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk¬† meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata¬† bagi hidupku.¬†¬†¬† Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau¬† dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di¬† telingamu, ‚ÄúMimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu¬† selama 5 tahun. Hayu semangat!‚ÄĚ

Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu,¬† ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis¬† sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, ‚ÄúKenapa saya, Tuhan!¬† Kenapa kami?‚ÄĚ Sebab, Tuhan akan menjawab, ‚ÄúKenapa bukan kamu?¬† Kenapa bukan kalian?‚Ä̬†¬†¬† Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. ‚ÄúSemua akan¬† baik-baik saja.‚ÄĚ Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat¬† di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup.¬† Seandainya aku boleh mendampingi operasimu?. Tapi tidak boleh. Aku¬† menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha¬† tersenyum, tetapi sendirian. Tidak ? tidak terlalu sendirian.

Ada¬† seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, ‚ÄúAku ada¬† di situ, menemanimu.‚ÄĚ Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali,¬† ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. ‚ÄúApa kepala bebalmu¬† tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!‚Ä̬†¬†¬† Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara¬† terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya¬† ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika¬† tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. ‚ÄúIni anak Bapak?‚Ä̬†¬†¬† Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku¬† harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan¬† berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang¬† sangat senior. ‚ÄúSelamat, ya. Bayinya laki-laki.‚Ä̬†¬†¬† Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya,¬† Allah?.bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan¬† oleh semua kata yang ada di dunia???

Makhluk itu terpejam tenang semacam  malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin  menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir  kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok  Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat.    Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa  surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak  perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima  menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan.  Ingatanku kembali kepadamu.

Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar¬† tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita¬† bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari,¬† dan saudara kembarku. ‚ÄúHe is so cute,‚ÄĚ kata SMS ku kepadanya.¬† Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan¬† mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan¬† dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta.¬†¬†¬† Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas¬† dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku,¬† dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku¬† di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu¬† banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya¬† dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita.¬†¬†¬† Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya¬† seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit¬† getaran di bibir.

Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada¬† hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di¬† dunia ini.¬†¬†¬† Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita¬† sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari.¬† Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus¬† kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha¬† mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya¬† tangisnya tak meledak-ledak.¬†¬†¬† ‚ÄúTerima kasih, Kang,‚ÄĚ katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan¬† kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus,¬† Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup¬† engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus¬† sedunia? Lalu ke mana kata ‚Äúterima kasih‚ÄĚ yang seharusnya¬† kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata¬† ‚Äúterima kasih‚ÄĚ mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling¬† kuat di kepalaku.¬†¬†¬† Mengurusimu dan bayi kita.

Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya  menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang  ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang  kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi  klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak  nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan.  Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk  namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu  tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada  waktu bersamaan.

Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak  diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50  cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi  memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang,  jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak  ada duanya di dunia.

Ada bisik bangga, ‚ÄúIni anakku? anak¬† laki-lakiku. ‚ÄĚ Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan¬† sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya¬† kelak semembentang hatimu.¬†¬†¬† Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama¬† sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak¬† serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara¬† dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah.¬† Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad:¬† YANG TERPUJI? dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin¬† dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian,¬† pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji?¬† mulia?dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey?

Ini menjadi awal yang  indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu.    (persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang  samudra)

‚ÄĒ‚ÄĒ‚ÄĒ-

h1

Nyemedi

3 Februari 2013

Ketika berbicara masalah hati, aku pikir kita semua sama. Laki-laki atau perempuan, semua butuh dihargai, didengar, dianggap. Apakah diam dianggap sebagai keangkuhan? Bagi sebagian kaum, ya. Dan bagi mereka yg merasionalkan kediaman, itu adalah bentuk tangis yang menyesakkan, lebih sayu dibanding notasi sendu di penghujung malam. Apakah sabar dianggap suatu penipuan? Maka tertawalah, karena impulsif juga dianggap bentuk ketergesaan.

Jadi, bagaimana hati harus bersikap, sementara hidup terus beranjak dan pemikiran senantiasa berkembang. Menerima takdir dengan kepala tengadah tidak selalu benar. Karena, tidak selalu ia berasal dari atas. Maka, bicaralah, agar dapat kita renungkan arah berlalunya.

h1

Rekam Pulau Bunga

29 November 2012

Saya bukan seorang yang penting untuk memulai kisah ini. Hanya saja, saya ingin bercerita sedikit. Tentang pagi itu, Flores, 12 Desember 1992, pukul 05:30.

Daerah Flores, khususnya Maumere, merupakan kawasan dengan tingkat risiko tsunami yang cukup tinggi. Hal tersebut dikarenakan Maumere sendiri berada di zona subduksi lempeng tektonik Australia dan Eurasia serta dipengaruhi oleh sesar-sesar aktif di sepanjang pulau Flores (Fauzi, 2006;Wah, 2006). Secara geografis, pulau Flores terletak di perbatasan zona konvergensi dua mega lempeng, yakni lempeng Hindia-Australia dan Eurasia. Dengan demikian, bukanlah hal luar biasa jika terjadi gempa di wilayah ini. Saya katakan tidak luar biasa, karena memang itu adalah suatu kewajaran. Sama wajarnya dengan air dipanaskan maka mendidih. (to be continued)

-tulisan ini sudah bersemayam lama di draft saya, sengaja saya post sekarang agar saya bertanggung jawab untuk menyelesaikannya (eheem, harap maklum :P)-